Meranti | metroinvestigasi.id- Penyegelan panglong arang di Kepulauan Meranti bukan sekadar urusan administrasi atau legalitas di atas kertas. Bagi kami, ini adalah persoalan “piring nasi” ribuan kepala keluarga. Di balik garis segel itu, ada anak-anak yang terancam putus sekolah, ada dapur yang tidak lagi mengepul, dan ada harga diri para ayah yang runtuh karena tak lagi bisa memberi makan keluarganya.
Khairul Sholeh,sebagai pemuda yang setiap hari melihat langsung kondisi di lapangan, merasa miris. Kita semua sepakat pada aturan hukum, tapi hukum yang sejati seharusnya membawa kesejahteraan, bukan malah menciptakan kemiskinan baru di tanah sendiri.
Kepada Bapak Bupati, jajaran Pejabat Terkait, dan Yang Terhormat Anggota DPRD Kepulauan Meranti:
Masyarakat kami yang bekerja di panglong arang ini bukanlah korporasi besar yang mencari kekayaan melimpah. Mereka adalah rakyat kecil yang hanya ingin bertahan hidup dari hari ke hari. Mereka bekerja keras di tengah asap dan panas hanya untuk sesuap Nasi Bukan Untuk Menumpuk Harta Di Bank .
Membiarkan panglong-panglong ini tersegel tanpa solusi konkret sama saja dengan membiarkan rakyat Anda perlahan mati dalam kelaparan. Kami meminta:
Hadirkan Diskresi: Berikan kebijakan khusus atau masa transisi yang memungkinkan warga tetap bekerja sambil proses pembenahan regulasi berjalan.
Langkah Konkret DPRD: Kami butuh wakil rakyat yang menjemput bola ke pusat atau provinsi, mencari celah regulasi agar kearifan ekonomi lokal ini tidak mati. Jangan hanya diam menonton saat konstituen Anda kehilangan mata pencaharian.
Pembinaan, Bukan Pembinasaan: Jika ada yang kurang dalam perizinan, bimbinglah mereka. Jika ada masalah lingkungan, berikan edukasi. Menutup secara total tanpa solusi adalah bentuk kegagalan birokrasi dalam mengayomi rakyatnya.
Kepulauan Meranti sedang tidak baik-baik saja jika mata pencaharian utamanya diputus tanpa jalan keluar. Kami tidak akan diam melihat kemiskinan dipaksakan hadir karena ketidakmampuan pejabat dalam mencarikan solusi.
Biarkan rakyat kami kembali bekerja. Berikan mereka hak untuk mencari nafkah yang halal demi keluarga. Jangan tunggu kemarahan sosial menjadi puncak dari rasa lapar yang tidak lagi terbendung.(mp)













Komentar