Kenaikan Isa Al-Masih Dalam Pandangan Iman Katolik
Oleh: Frans Simarmata, S.H.
Labusel | metroinvestigasi.id- Dalam tradisi iman Kristen, Kenaikan Isa Al-Masih merupakan salah satu peristiwa puncak dalam rangkaian misteri keselamatan, yang dimulai dari inkarnasi, penderitaan, wafat, hingga kebangkitan. Dalam ajaran Gereja Katolik, peristiwa ini dipahami sebagai saat ketika Yesus Kristus naik ke surga dengan tubuh dan jiwa setelah 40 hari sejak kebangkitan-Nya. Peristiwa ini tidak dimaknai sebagai simbol semata, melainkan sebagai realitas iman yang menandai kemuliaan Kristus serta perubahan cara kehadiran-Nya di tengah dunia.
Kenaikan juga dipahami bukan sebagai perpisahan yang meninggalkan umat-Nya, melainkan sebagai pemuliaan Kristus di hadapan Allah Bapa dan penyempurnaan karya keselamatan. Dalam pandangan iman Katolik, peristiwa ini justru membuka dimensi kehadiran Kristus yang lebih luas, tidak lagi terbatas secara fisik, tetapi hadir secara rohani melalui Gereja dan karya Roh Kudus. Karena itu, Kenaikan menjadi titik transisi penting dari karya Yesus di dunia menuju misi Gereja yang terus berlangsung sepanjang sejarah.
Secara teologis, Kenaikan memiliki makna yang sangat mendalam dan tidak dapat dipisahkan dari sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Peristiwa ini menegaskan bahwa seluruh karya keselamatan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan Allah. Dalam perspektif Gereja Katolik, Kenaikan juga mengungkapkan tujuan akhir hidup manusia, yaitu persatuan dengan Allah dalam kehidupan kekal.
Kenaikan Kristus ke surga yang digambarkan sebagai “duduk di sebelah kanan Bapa” merupakan ungkapan iman yang menandakan kemuliaan dan otoritas ilahi. Dalam ajaran Katolik, hal ini berarti Kristus berkuasa atas seluruh ciptaan, bukan hanya sebagai pemenang atas dosa dan maut, tetapi juga sebagai Raja yang memerintah dengan kasih dan keadilan. Dalam diri Kristus yang dimuliakan, kemanusiaan juga diangkat kepada martabat yang baru.
Setelah kebangkitan, Kenaikan menegaskan bahwa karya penebusan manusia telah disempurnakan melalui pengorbanan Kristus. Meskipun secara fisik Kristus tidak lagi hadir di dunia, Ia tetap hadir secara rohani dalam Gereja melalui sakramen dan karya Roh Kudus. Kehadiran ini memastikan bahwa keselamatan terus berlangsung dan tetap nyata dalam kehidupan umat beriman.
Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan mandat kepada para murid untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia. Perintah ini menjadi dasar utama misi Gereja hingga saat ini. Dengan demikian, Kenaikan tidak hanya menandai akhir dari pelayanan Yesus di dunia, tetapi juga awal dari tanggung jawab Gereja untuk melanjutkan karya keselamatan melalui pewartaan iman, kasih, dan kebenaran.
Umat Katolik percaya bahwa Kristus akan datang kembali pada akhir zaman untuk menggenapi penghakiman terakhir dan menyempurnakan seluruh ciptaan. Pengharapan ini menegaskan bahwa sejarah manusia memiliki arah dan tujuan, yakni kepenuhan dalam Allah. Karena itu, Kenaikan menjadi tanda pengharapan akan kedatangan Kristus kembali dalam kemuliaan.
Ajaran ini diteguhkan dalam pengakuan iman Gereja Katolik yang menyatakan bahwa Kristus “naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa”. Pengakuan iman ini bukan sekadar rumusan doktrinal, melainkan inti iman yang menegaskan kedaulatan Kristus atas sejarah dan kehidupan manusia. Dalam liturgi Gereja, iman ini terus dihayati melalui perayaan Ekaristi dan doa umat.
Peristiwa Kenaikan juga dirayakan sebagai Hari Raya Kenaikan Tuhan yang jatuh 40 hari setelah Paskah. Dalam tradisi Gereja, perayaan ini tetap diperingati pada hari Kamis, meskipun di beberapa wilayah dipindahkan ke hari Minggu demi memudahkan partisipasi umat. Perayaan ini menjadi momen untuk memperdalam iman serta memperkuat pengharapan akan kehidupan kekal.
Dalam kehidupan pastoral, Hari Raya Kenaikan mengingatkan umat bahwa mereka dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Kenaikan tidak hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah, tetapi dihidupi sebagai dorongan untuk mewartakan kasih Allah dalam tindakan nyata sehari-hari.
Dalam iman Katolik, Kenaikan Isa Al-Masih merupakan tanda pengharapan bahwa manusia dipanggil menuju kehidupan kekal bersama Allah. Peristiwa ini meneguhkan bahwa Kristus telah membuka jalan menuju kemuliaan tersebut, sehingga menjadi sumber kekuatan iman bagi umat beriman di tengah kehidupan dunia.
Peristiwa ini juga menegaskan misi Gereja untuk terus mewartakan kasih dan keselamatan Kristus di dunia sambil menantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan. Gereja dipanggil untuk tetap setia menjadi saksi iman serta menghadirkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sosial, budaya, dan spiritual manusia di setiap zaman.
Nasehat untuk Rekan-rekan Jurnalistik
Dalam semangat Kenaikan Isa Al-Masih, rekan-rekan jurnalistik diingatkan bahwa sebagaimana Yesus Kristus mengutus para murid setelah naik ke surga, insan pers juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pewarta kebenaran di tengah masyarakat. Tugas jurnalistik tidak hanya sebatas menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga agar kebenaran tetap terjaga dari distorsi, kepentingan, dan disinformasi yang dapat merugikan publik.
Karena itu, setiap wartawan dituntut untuk menjunjung tinggi prinsip verifikasi, kejujuran, dan keberimbangan dalam setiap pemberitaan. Informasi yang disampaikan harus mampu mencerdaskan publik, memperkuat kesadaran sosial, serta menghindarkan masyarakat dari opini yang menyesatkan.
Lebih jauh, profesi jurnalistik merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat. Dalam semangat iman dan kemanusiaan, insan pers diharapkan mampu menghadirkan karya yang membangun, mencerahkan, serta memperkuat nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam kehidupan sosial.
Penulis Adalah Wartawan Metroinvestigasi Labuhanbatu Selatan
















Komentar