Medan | metroinvestigasi.id-Momentum bersejarah lahirnya Direktorat Jenderal Pesantren menjadi tonggak baru dalam sejarah pendidikan Islam Indonesia. Pembentukannya menegaskan sinergi luhur antara ulama dan umara dalam membangun peradaban bangsa yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
*Presiden RI dan Menteri Agama RI : Sosok Umara Peradaban dan Ulama Peradaban Bangsa
Pemerintah Republik Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden RI Al-Mukarram H. Prabowo Subianto dan Menteri Agama RI Al-Mukarram Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, secara resmi membentuk Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama sebuah langkah monumental sebagai bentuk penghormatan negara terhadap pesantren sebagai pusat moral, pendidikan, dan spiritual bangsa.
Presiden RI Al-Mukarram H. Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembentukan Ditjen Pesantren bukan sekadar keputusan administratif, melainkan penghargaan atas dedikasi santri dan ulama yang telah menjaga bangsa dengan ilmu dan iman. Pesantren ditegaskan sebagai lumbung energi spiritual dan benteng moral yang tak pernah padam. Momentum Hari Santri menjadi pengingat abadi bahwa pesantren harus terus menjadi sumber nilai, ilmu, dan kekuatan moral bangsa, serta menjadi tempat lahirnya pemimpin masa depan yang siap mengawal Indonesia Emas 2045.
*Ulama dan Umara: Sinergi Peradaban Bangsa
Menteri Agama RI Al-Mukarram Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA menekankan bahwa pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren merupakan wujud nyata sinergi antara ulama sebagai penjaga moral peradaban dan umara sebagai pengelola bangsa. Langkah ini memperkokoh pesantren sebagai pusat pendidikan karakter, ilmu, dan kemandirian umat.
Kebijakan ini merupakan kelanjutan logis dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021 tentang Dana Abadi Pesantren, yang menjamin keberlanjutan pendidikan, inovasi teknologi, dan kegiatan ekonomi kreatif di lingkungan pesantren.
Presiden RI Al-Mukarram H. Prabowo Subianto dan Menteri Agama RI Al-Mukarram Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, laksana umara peradaban dan ulama peradaban dua sosok yang berpadu dalam semangat pengabdian dan tanggung jawab spiritual untuk memajukan bangsa. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan taufiq, hidayah, inayah, dan perlindungan kepada keduanya dalam menunaikan amanah kenegaraan, kapan dan di mana pun berada. Aamiin.
*Pesantren : Pilar Moral dan Peradaban Bangsa
Sejarah panjang pesantren telah membuktikan peranannya sebagai pilar moral, intelektual, dan spiritual bangsa. Sejak masa dakwah Walisongo pada abad ke-15, pesantren menjadi pusat pendidikan Islam moderat yang menyebarkan nilai keimanan dan menjaga budaya Nusantara.
Santri dan kyai memiliki peran strategis dalam mempertahankan kemerdekaan, terbukti melalui Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang menjadi bukti perpaduan antara iman, ilmu, dan keberanian dalam menjaga tanah air.
*pengakuan negara terhadap pesantren diwujudkan secara bertahap melalui :
1. Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional,
2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren,
3. Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021 tentang Dana Abadi Pesantren,
hingga puncaknya pada tahun 2025, dengan lahirnya Direktorat Jenderal Pesantren sebagai institusi eselon I di Kementerian Agama.
Kehadiran Ditjen Pesantren memudahkan koordinasi, pengawasan, serta pemberdayaan seluruh pesantren di Indonesia, memperkuat peran strategis pesantren dalam pembangunan nasional.
*Makna Strategis Pembentukan Ditjen Pesantren
Pembentukan Ditjen Pesantren mengandung makna strategis yang mendalam. Pesantren kini diakui sebagai pusat peradaban moral dan spiritual, tempat lahirnya generasi berkarakter jujur, disiplin, toleran, dan berbudi luhur.
Pesantren juga menjadi sumber intelektual dan kepemimpinan bangsa yang siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri Islam moderat. Integrasi pendidikan agama dan kebangsaan menegaskan bahwa Indonesia adalah pusat peradaban Islam yang beretika, berdaya saing, dan berkeadilan sosial.
Kehadiran Dana Abadi Pesantren memastikan kesinambungan pendidikan, dakwah, dan inovasi lintas generasi, menjadikan pesantren sebagai warisan peradaban yang kokoh. Sinergi ulama dan umara melalui Ditjen Pesantren menjadi fondasi bagi terciptanya peradaban bangsa yang seimbang, unggul, dan berkeadilan.
Langkah monumental ini sekaligus menyiapkan generasi santri dan bangsa menuju Indonesia Emas 2045 negeri baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafur, yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan berperadaban unggul di mata dunia.
*Pedoman Ilahi untuk Ulama dan Umara
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan katakanlah : ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat amal perbuatanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah SWT) yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
(QS. At-Taubah : 105)
Ayat ini menjadi pedoman agung Penuh keberkahan bahwa setiap langkah, usaha, dan pengabdian santri, ulama, serta umara adalah ibadah yang tercatat di sisi Allah SWT, menegaskan tanggung jawab moral dan spiritual dalam membangun bangsa.
*Harapan dan Doa untuk Indonesia Berperadaban
Seluruh umat Islam, kiai, santri, guru pesantren, dan masyarakat Indonesia menyampaikan ucapan Selamat Hari Santri 2025 serta apresiasi mendalam atas lahirnya Direktorat Jenderal Pesantren.
Semoga langkah monumental ini menjadi amal jariyah bagi Presiden RI Al-Mukarram H. Prabowo Subianto, Menteri Agama RI Al-Mukarram Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dan seluruh pemimpin bangsa, membawa cahaya peradaban bagi umat dan negeri hingga akhir zaman.
Dari Walisongo hingga santri masa kini, dari kiai pejuang kemerdekaan hingga generasi digital, semuanya bersatu membumikan nilai iman, ilmu, dan akhlak mulia demi kejayaan Indonesia.
Direktorat Jenderal Pesantren kini menjadi simbol bahwa ulama dan umara berjalan seiring membangun negeri, menjadikan Indonesia mercusuar peradaban beriman, berilmu, dan berakhlak mulia di kancah global.
Selamat Hari Santri Nasional 2025
Semoga setiap langkah dalam pembinaan pesantren menjadi berkah, menguatkan fondasi moral bangsa, menegakkan peradaban raḥmatan lil‘alamin, dan menyiapkan Indonesia menuju Emas 2045 negeri baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. (**)
(Penulis : Tuan M. Yoserizal Saragih, M.I.Kom, beliau merupakan keluarga besar santri dan juga menjabat sebagai Wakil Dekan III FIS UIN Sumut).











Komentar