Labura | metroinvestigasi.id – Rianti (39), warga Desa Tubiran Kecamatan Marbau Kabupaten Labuhan Batu Utara ( Labura ) Provinsi Sumatera Utara, seorang janda beranak Tiga yang hidup dengan penghasilan kurang dari cukup atau serba kekurangan.
Kesehariannya adalah mencari lidi sawit dan berondolan biji sawit milik tetangga atau masayarakat yang dikumpulkan satu per satu. Jika sudah terkumpul banyak barulah kemudian dijual kepada toke sawit.
Penghasilan per harinya terkadang hanya dapat Rp.20.000.- sampai Rp.30.000.- saja.Dari hasil inilah untuk menafkahi anak-anaknya yang tidak cukup tapi dicukup-cukupkan.
Tidak setiap hari pula dapat mencari berondolan biji sawit, karena masyarakat di Desa Tubiran rata- rata memanen pohon sawitnya dua minggu sekali.
Dengan mengutip berondolan biji sawit yang satu persatu inilah Rianti mendapatkan sesuap nasi untuk anak-anaknya yang sejak dari kecil di tinggal ayahnya,karena meninggal dunia.
Rianti terus menerus mencari berondolan biji sawit untuk kebutuhan biaya makan sehari-hari dan sekolah anak-anaknya.
Ketika kami, awak media ini menemui Rianti, Senin ( 09/12/2019) janda tiga anak ini mengatakan tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, baik bantuan dari sekolah seperti KIP ( Kartu Indonesia Pintar ) untuk anaknya misalnya, atau bantuan PKH ( Program Keluarga Harapan ) dan bantuan yang lain-lainnya, Rianti tidak pernah menerimanya.
Rianti pernah meminta dan bertanya kepada Suradi, Kepala Dusun setempat. Saat ditanyakan kepada Kepala Dusun, ” pak saya mau tanya, apakah saya memang tidak dapat bantuan PKH.” sebutnya dengan wajah sedih.
Lantas dijawab Suradi selaku Kepala Dusun, ” kamu tidak dapat bantuan PKH, karena kamu ikut orang tua.” Begitu jawab Suradi, sementara ibu ( orang tua ) Rianti juga seorang janda.
Dengan polosnya dan tidak tau apa-apa, Rianti pun pasrah dengan ucapan Suradi, Kepala Dusun.
Herianto selaku Kepala Desa di Desa Tubiran pun tidak mau tahu dengan keadaan Rianti yang kehidupannya memprihatinkan. Tutup mata dan telinga, seakan-akan Herianto tidak tahu kalau ada warga seperti Rianti yang harus dibantu.
Rianti juga tidak memiliki rumah, seorang janda yang tinggal bersama seorang ibu yang juga janda, karena ayah Rianti sudah lama meninggal.
Miris sekali nasib kedua orang ini, Rianti serta anak-anaknya dan ibunya yang setatusnya sama-sama janda, tinggal satu rumah tidak pernah dapat bantuan sejenis apapun dari pemerintah.
Terkesan selama ini pemerintah hanya memberikan bantuan dengan cara tebang pilih, masyarakat yang semestinya dapat tetapi tidak mendapatkan.
Kini, Rianti tidak mendapatkan hak yang semestinya harus diterimanya.Mungkin inilah yang dinamakan bantuan tidak tepat sasaran, yang kaya dapat yang miskin makin melarat, akibat ketidak adilan Aparat ( Desa ).
Laporan : suryani isur










Komentar