Pakpak Bharat Siap Tanam Padi Bersertifikasi untuk Cegah Stunting

 

Pakpak Bharat|metroinvestigasi.id-
Pada tahun 2022, prevalensi stunting di Pakpak Bharat berhasil turun dari 40,8% (tahun 2021) menjadi 30,8%. Meskipun demikin angka tersebut masih sangat tinggi, dimana Pakpak Bharat berada pada urutan ke 30 dari 33 Kabupaten/ Kota di Sumatera Utara.

Target penurunan prevalensi stunting di Indonesia diselaraskan dengan target global, yaitu target World Health Assembly (WHA) untuk menurunkan prevalensi stunting sebanyak 40% pada tahun 2025 dari kondisi tahun 2013 (37,2%). Untuk itu, diperlukan upaya percepatan penurunan stunting dari kondisi saat ini agar prevalensi stunting Balita turun menjadi 19.4% pada tahun 2024.

Riset Budi Daya padi biofortifikasi adalah pemuliaan tanaman untuk meningkatkan nilai gizi padi, untuk menstimulus para petani di Kabupaten Pakpak Bharat, Bidang Litbang melaksanakan SOSIALISASI DAN DISEMINASI RISET Kementerian Pertanian terhadap PADI BIOFORTIFIKASI UNTUK PENCEGAHAN STUNTING. diselenggarakan di Aula Bappelitbangda Pakpak Bharat pada, Senin, 28 Agustus 2023.

Sosialisasi dan Diseminasi Riset Padi Biofortifikasi untuk Pencegahan Stunting bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta tentang budidaya padi biofortifikasi. Sejalan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Litbang Pakto Anakampun.

Sebagai salah satu cara pencegahan stunting diharapkan nantinya Dinas Pertanian dapat memfasilitasi pelaksanaan budidaya sebagai percontohan, dengan kerjasama Pemerintahan Desa sebagai fasilitator pelaksana teknis.

Kegiatan yang dihadiri oleh para kepala Desa dan Dinas Pertanian, dibuka secara langsung Kepala Bappelitbangda yang diwakili oleh Sekretaris Badan Roy Efraim Bancin. Untuk mencapai target prevalensi stunting 19,4% dibutuhkan strategi khususnya bagi Pakpak Bharat dengan angka stunting yang masih tinggi. Pencegahan stunting menyasar berbagai penyebab langsung dan tidak langsung yang memerlukan kerjasama dan koordinasi lintas sektor di seluruh tingkatan pemerintah, swasta dan masyarakat. Salah satu sektor yang terlibat menurukan prevalensi stunting adalah Sektor Pertanian dalam pengadaan pangan bergizi. Pesan pembukaan yang disampaikan Sekretaris Badan Roy Efraim Bancin.

Peserta mengikuti dengat seksama pemaparan dari narasumber yang merupakan Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan salah satu praktisi yang telah mempraktekkan budidaya padi biofortifikasi di Purwakarta. Materi yang disampaikan langsung oleh penelitian dari BRIN Ibu Setia Sari Girsang, Ph.D dan praktisi sekaligus Penyuluh Pertanian Pelaksana Bapak Nana Sumarna, SP.

Kementan telah melakukan riset tentang Budidaya Padi Biofortifikasi untuk Pencegahan dan Penurunan Stunting. Oleh karena itu, penting disosialisasikan hasil Risetnya. Khusus dilaksanakan dengan sasaran Perangkat Daerah terkait dan Pemerintahan Desa”. Pesan yang disampaikan Setia Sari Girsan yang berhadir langsung ke Kab. Pakpak Bharat.

Tanaman Padi Biofortifikasi ini banyak manfaatnya dan bisa langsung dikonsumsi oleh siapapun, cara menanam tidak terlalu jauh berbeda dengan tanama jenis padi lainnya. “Padi Biofortifikasi ini memiliki banyak kandungan nutrisi yang bisa dikonsumsi siapapun. Cara membudidayakannya juga tidak jauh berbeda dengan tanaman Pagi jeni lain, hanya membutuhkan keseringan pemupukan yang lebih daripada biasanya”. Poin penting yang disampaikan Bapak Nana Sumarna melalui tampilan layar Zoom.

Target pelaksanaan sosialisasi ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan tetapi adanya komitmen yang akan tertuang dalam berita acara untuk melaksanakan percontohan budidaya padi biofortifikasi.(M.Solin)

Komentar