Oleh: Frans Simarmata, S.H.
Labusel | metroinvestigasi.id- Ada masa di mana sejarah tidak ditulis dengan tinta pada lembaran-lembaran yang lapuk dimakan usia, melainkan diukir dengan tetesan air mata kesetiaan yang sunyi, serta jejak-jejak kaki yang tertimbun debu padang gurun dan beterbangan ditiup angin badai yang tak kenal belas kasihan.
Di bawah langit purba yang membentang luas tak bertepi, seolah menyimpan ribuan rahasia abadi di balik setiap gumpalan awan, terajut sebuah kisah agung tentang iman yang diuji hingga ke titik terdalam, janji pusaka yang jangkauannya melampaui batas nalar manusia, serta pergulatan batin yang mendalam dan manusiawi kisah yang kelak membelah arus sejarah dunia, melahirkan dua peradaban besar yang mewarnai wajah umat manusia hingga hari ini. Ini adalah kisah tentang Abraham, sang Bapa Orang Beriman yang berani melangkah ke tanah asing dalam ketaatan yang penuh percaya, serta kisah dua perempuan yang rahimnya dipilih oleh misteri ilahi untuk menjadi wadah masa depan bangsa-bangsa: Sara sang istri perjanjian, dan Hagar sang hamba yang tak sengaja terjebak di pusaran takdir yang besar.
Sebagai seorang Kristen Batak, saya dididik dan dibesarkan dalam budaya yang sangat menghormati silsilah atau tarombo, menghargai setiap tetes darah yang mengalir dari sang ayah pendahulu, serta memandang hubungan persaudaraan sebagai ikatan sakral yang tak boleh diputus.
Berbekal pandangan hidup dan kacamata kejujuran sejarah itu, tanpa dilingkupi kabut kebencian, prasangka, atau keterbatasan doktrin yang sempit, hati saya bergetar menyadari satu kebenaran purba yang kokoh dan tak terbantahkan. Baik bangsa Israel yang kelak melahirkan tradisi Yudaisme dan Kekristenan, maupun bangsa Arab yang menurunkan peradaban Islam, keduanya sejatinya memiliki hulu yang sama, satu mata air sejarah yang sama: Abraham, sang leluhur bersama. Di bawah naungan langit yang sama, langit adat dan langit kebenaran iman, mereka pada hakikatnya adalah marpariban saudara sedarah, anak-anak dari satu ayah yang sama, namun ditakdirkan lahir dari rahim ibu yang berbeda, serta tumbuh dan berkembang di bawah naungan janji yang sama namun dengan porsi dan jalan sejarah yang berbeda pula.
Perjalanan panjang persaudaraan yang sarat cobaan, luka, dan harapan itu bermula dari pasangan suami istri, Abraham dan Sara. Mereka adalah sepasang kekasih yang berjalan beriringan melintasi waktu dan ruang dalam ikatan perjanjian pernikahan yang kudus dan diberkati Tuhan. Cinta dan kesetiaan mereka kokoh bagai batu karang yang tak tergoyahkan diterjang ombak zaman, namun di balik kemegahan iman dan keteguhan hati mereka, ruang domestik rumah tangga itu senantiasa dilingkupi oleh kesunyian yang mencekam dan hawa yang terasa dingin akibat sebuah rahim yang gersang, tertutup, dan terkunci rapat dari suara tawa seorang bayi, suara yang sejatinya menjadi nyawa dan kebahagiaan utama sebuah keluarga.
Di tengah malam-malam yang panjang dan sepi, janji Allah yang pernah membisikkan dengan tegas bahwa keturunan Abraham akan sebanyak bintang di angkasa yang tak terhitung jumlahnya, dan serupa butiran pasir di tepi laut yang tak sanggup dijumlahkan, terasa bagai sebuah ironi yang menyakitkan dan harapan yang seolah menjauh. Sara harus terus menelan pil pahit takdir yang bernama kemandulan, sementara usia mereka berdua terus digilas oleh waktu yang berjalan maju tanpa ampun dan tanpa kompromi.
Dalam keputusasaan yang teramat manusiawi itu, ketika akal sehat dan logika pemikiran zaman itu perlahan mulai mengalahkan kekuatan harapan iman pada janji-Nya yang tak kunjung berwujud nyata, Sara akhirnya mengambil sebuah keputusan yang dramatis, lahir dari remuknya hati seorang istri yang mendambakan keturunan.
Seperti yang tertulis jelas dalam Kitab Kejadian pasal 16 ayat 2, berkatalah Sarai kepada Abraham: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu, mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram pun mendengarkan serta menuruti perkataan Sarai. Sebuah keputusan yang pada permukaannya tampak wajar dan rasional menurut kebiasaan budaya dan hukum adat pada masa itu, namun sebetulnya merupakan jalan pintas yang lahir dari kerapuhan iman manusiawi sebuah upaya manusia untuk mencoba mempercepat jalannya rencana dan waktu Tuhan dengan kekuatan tangan dan akal budi sendiri.
Dari pertautan biologis dan persatuan antara Hagar, hamba yang berasal dari tanah Mesir itu, dengan Abraham, lahirlah Ismael, sang putra sulung yang tangis pertamanya memecah kesunyian malam di tenda-tenda pengembaraan mereka sekaligus membawa kehangatan baru yang mendalam bagi hati Abraham yang telah sekian lama merindukan kehadiran seorang anak. Namun, ironi sejarah tak dapat dihindari kehadiran Ismael di dunia ini justru menjadi pemicu yang menyalakan api gesekan emosional yang membakar hati Sara, menciptakan atmosfer rumah tangga yang kian hari kian panas, penuh dengan kecemburuan sosial, rasa tidak nyaman, serta luka batin yang mendalam dan tak tersembuhkan.
Bertahun-tahun berlalu, hingga akhirnya ketika anak yang sesungguhnya dijanjikan dan diharapkan sejak awal itu kelak lahir ke dunia, takdir yang keras namun penuh makna, serta desakan hati Sara yang mendesak dan keras kepala, kemudian menuntun Hagar dan Ismael kecil melangkah pergi menuju pekatnya padang gurun Bersyeba yang gersang, tandus, dan berbahaya sebuah tempat di mana batas antara hidup dan mati hanya dipisahkan oleh seutas benang tipis dan mukjizat semata.
Di antara hamparan pasir panas yang membakar telapak kaki, serta udara kering yang mencekik tenggorokan dan mengeringkan kerongkongan, saat persediaan air di wadah kulit yang mereka bawa telah habis tak bersisa, dan saat tangis Ismael mulai melemah seiring berkurangnya tenaga hidupnya, Tuhan menunjukkan diri-Nya sebagai Sang Penyedia yang tak pernah meninggalkan siapa pun. Firman-Nya yang tercatat dalam Kejadian 21:17-18 menggemakan kebaikan dan kasih setia itu: “Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia berbaring. Bangkitlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” Di saat paling gelap itu,
Tuhan membuka mata hatinya yang sembap dan penuh air mata untuk melihat sebuah sumur air tersembunyi yang menyelamatkan nyawa mereka berdua, sekaligus menegaskan kepada sejarah bahwa di dalam tubuh Ismael mengalir darah suci Abraham yang sangat berharga, diakui, dan diperhitungkan di mata Tuhan Yang Maha Kuasa.
Seiring berjalannya waktu dan perputaran roda sejarah, Ismael tumbuh berkembang menjadi seorang pemuda gurun yang tangguh, mandiri, berjiwa bebas, lincah, dan menjadi seorang ahli memanah yang sangat perkasa dan disegani di bawah naungan langit luas padang gurun Paran. Dari rahim sejarah dan keturunannya inilah, Ismael melahirkan dua belas putra yang kelak bangkit menjadi pemimpin dan raja-raja atas suku-suku mereka sendiri, mendirikan perkampungan-perkampungan berbenteng, kerajaan-kerajaan kecil, dan menjadi tunas-tunas awal bagi bertumbuhnya Bangsa Arab yang kemudian menguasai dan menyebar di seluruh jazirah luas tersebut.
Silsilah suci dan murni ini terus bergulir melintasi abad demi abad, dijaga dan dipelihara kemurnian darahnya dari generasi ke generasi, hingga kelak dari garis keturunan inilah lahir Nabi Muhammad SAW, pembawa risalah besar Islam yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi, membawa pesan keesaan Tuhan ke segala bangsa. Sementara itu, nun jauh di tenda utama Abraham, di bawah naungan perjanjian yang lain, sebuah babak baru yang tak kalah agung sedang dipersiapkan dan digarap oleh tangan Tuhan.
Ketika rambut kepala dan jenggot Abraham telah memutih sepenuhnya bagai salju yang turun di puncak gunung, ketika tubuh telah membungkuk berat dimakan usia tua, dan ketika rahim Sara secara biologis telah mati, kering, dan mustahil untuk mengandung menurut ukuran manusia, keajaiban anugerah supranatural akhirnya datang mengetuk pintu kehidupan mereka. Tuhan melawat Sara tepat pada waktunya, persis seperti yang firman-Nya telah katakan dan janjikan bertahun-tahun silam, menepati kata-kata kuno-Nya dan membuktikan bahwa ketidakmungkinan manusia adalah panggung bagi kemuliaan dan kuasa-Nya.
Sebagaimana dicatat dengan jelas dalam Kejadian 21:1-2: “TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya; dan TUHAN melakukan kepada Sara apa yang dijanjikan-Nya. Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham pada masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan oleh Allah kepadanya.” Di usia senjanya yang ke-90 tahun, Sara yang telah layu dan kering itu secara ajaib kembali berbunga, hidup, dan melahirkan Ishak sebuah nama legendaris yang berarti “tertawa”.
Nama itu diambil karena Sara tertawa di dalam hatinya, campuran antara rasa tidak percaya yang amat sangat, rasa takjub yang meluap, dan rasa syukur yang membuncah atas kemurahan Allah yang melampaui segala hukum alam dan logika manusia.
Ishak hadir ke dunia ini sebagai anak perjanjian yang sah dan penuh kuasa, lahir bukan dari kehendak daging, bukan dari rencana darurat manusia, melainkan murni semata-mata dari kedaulatan rencana dan ketetapan ilahi yang telah disiapkan sejak awal mula dunia.
Dari garis tidurnya yang tenang di pangkuan Sara, seluruh janji pusaka tentang kepemilikan abadi atas tanah Kanaan diikatkan dengan meterai perjanjian yang kekal dan tak terputus, menetapkan bahwa dari keturunannyalah berkat keselamatan bagi seluruh kaum, bangsa, dan suku di muka bumi ini akan disalurkan dan dialirkan. Aliran berkat dan sejarah itu kemudian diteruskan dan mengalir ketika Ishak menurunkan Yakub, sang penggulat malam yang gigih dan pantang menyerah, yang kelak dianugerahi nama baru oleh Allah menjadi Israel.
Dari dua belas putra Yakub inilah lahir Dua Belas Suku Israel, cikal bakal Bangsa Yahudi, yang sejarahnya kemudian dipenuhi dengan rangkaian mukjizat, kehadiran nabi-nabi pembuat perkara besar, serta tampilnya raja-raja besar seperti Daud dan Salomo hingga akhirnya sejarah itu mencapai puncaknya dengan menggenapi janji keselamatan universal bagi seluruh umat manusia melalui kelahiran Yesus Kristus, Sang Mesias dan Juruselamat dunia yang lahir dari garis keturunan Daud, dari suku Yehuda.
Namun, ketika kita menarik garis lurus dari akar tarombo purba di padang gurun itu hingga menembus ke realitas pahit hari ini, hati kita seketika tersayat dalam oleh kabut gelap politik modern yang mengaburkan segalanya.
Di tanah yang dulu dijalani, diusahakan, dan dijanjikan kepada Abraham, konflik bersenjata kini telah mengoyak nilai-nilai kemanusiaan hingga ke titik paling kelam dan menyakitkan. Sebagai manusia yang beriman dan berakal budi, keadilan harus disuarakan dengan lantang, jernih, dan tegas, kekejaman agresi militer serta tindakan genosida yang dilakukan oleh Benjamin Netanyahu beserta rezim politik dan militer Israelnya terhadap warga Arab Palestina baik mereka yang beragama Islam maupun yang beragama Kristen adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat keji, tidak berperikemanusiaan, dan harus dikutuk oleh setiap hati nurani yang hidup.
Akan tetapi, kejujuran moral dan keadilan sejarah juga menuntut kita untuk membedakan garis batas dengan tegas, serta menegaskan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Netanyahu sama sekali tidak mewakili iman Yahudi itu sendiri, sama sekali tidak mewakili ajaran Taurat, dan sama sekali tidak mewakili hati nurani seluruh umat Yahudi di dunia.
Menyamakan kekejaman politik seorang penguasa dengan seluruh umat Yahudi dimanapun mereka berada adalah sebuah kekeliruan besar, ketidakadilan sejarah, dan bentuk prasangka yang tidak berdasar. Di berbagai belahan bumi, bahkan di dalam wilayah Israel sendiri, banyak komunitas dan tokoh Yahudi yang benar-benar menjunjung tinggi hukum Taurat, justru berdiri di garis paling depan menentang kebijakan Netanyahu. Mereka membawa prinsip Tikkun Olam-sebuah mandat iman Yahudi yang mulia untuk menyembuhkan dunia, memperbaiki keadaan, dan bukan untuk menghancurkannya.
Netanyahu bertindak semata demi ambisi kekuasaan, kelangsungan jabatan, dan nasionalisme sempit yang buta, sementara Yudaisme sejati adalah agama para nabi yang mengajarkan keadilan, kebenaran, dan kasih bagi sesama manusia.
Kebijakan brutal rezim ini nyatanya menghancurkan warga Palestina tanpa pandang bulu, menumpahkan darah anak-anak keturunan Ismael yang beragama Islam sekaligus mengalirkan darah umat Kristen Palestina salah satu komunitas Kristen tertua dan paling setia di dunia yang menjadi penjaga tanah kelahiran Kekristenan itu sendiri. Di mata bom dan peluru politik yang kejam itu, darah Arab Islam dan darah Arab Kristen mengalir, bercampur, dan menyatu di tanah yang sama, tanah warisan Ayah mereka.
Merenungkan akhir dari seluruh jalinan kisah sejarah ini, ego sektarian dan tembok pemisah buatan manusia harus runtuh seketika. Di tengah bisingnya dunia yang kini dipenuhi narasi kebencian, propaganda permusuhan, dan pertikaian yang tak berkesudahan, hati Kristen Batak saya meratap sedih melihat duka keluarga purba yang begitu mendalam dan panjang.
Mereka yang hari ini saling menatap curiga, saling memusuhi, bahkan saling menghancurkan satu sama lain, sesungguhnya bukanlah musuh abadi yang berasal dari planet yang berbeda atau ciptaan yang berbeda; mereka adalah abang dan adik kandung, saudara sedarah yang hanya terpisah oleh badai rumah tangga dan keputusan masa lalu. Baik dari tenda Hagar yang menurunkan keturunan Arab, maupun dari tenda Sara yang menurunkan keturunan Israel, janji Allah kepada Abraham terbukti tidak pernah gugur dan tetap berlaku bagi keduanya.
Menentang kekejaman politik penguasa hari ini adalah kewajiban moral setiap manusia yang beriman dan berakal, tanpa harus menanam benci kepada sebuah bangsa atau seluruh kelompok manusia. Semoga suatu hari nanti, kesadaran akan persaudaraan seayah dan satu leluhur ini mampu menyembuhkan luka mendalam yang menganga di tanah perjanjian, tempat suci di mana abang dan adik seharusnya hidup berdampingan, saling menghormati, dan damai di bawah satu langit yang sama, langit milik Ayah yang sama.
Penulis Adalah Wartawan Metroinvestigasi Labuhanbatu Selatan










Komentar