Simalungun | metroinvestigasi.id- Aroma pelanggaran prosedur standar operasional (SOP) kembali menyeruak di tubuh PTPN IV Regional 2 Bah Jambi. Kali ini, kasus tragis menimpa BM (41), warga Huta Korem Bawah, Nagori Bahalat Bayu, Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi, Kabupaten Simalungun, yang tewas usai ditangkap pihak keamanan perusahaan perkebunan sawit pada Senin (22/9/2025) dini hari.
Peristiwa bermula saat BM bersama dua rekannya diduga mengambil Tandan Buah Segar (TBS) di Afdeling 2. Sekitar pukul 02.00 WIB, tim pengamanan melakukan penggerebekan. Dua orang berhasil kabur, sementara BM tertangkap. Tak lama berselang, kabar kematian BM mengguncang keluarga dan warga sekitar.
Versi yang Bertolak Belakang.
Keterangan saksi UM (14), rekan korban, menyebut BM sempat ditangkap hidup-hidup. Namun saat keluarga tiba di rumah sakit, BM sudah tak bernyawa.
“Dia sehat, bukan sakit-sakitan. Kami tahu betul kondisi BM. Kalau dibilang sakit stroke, itu mengada-ada. Nyatanya dia tiap hari masih panen sawit,” bantah Sujarno, paman korban.
Di sisi lain, APK PTPN IV, Vincent Nadeak, memberikan pernyataan berbeda. Ia mengklaim BM jatuh saat dikejar dan kondisi fisiknya melemah. “Korban sempat dibawa ke kantor Korkam, lalu ke RS Tiara Siantar. Informasi dari warga, dia baru sembuh dari stroke ringan,” tulisnya melalui WhatsApp.
Keluarga Curiga Ada Kekerasan
Narasi “korban jatuh” dari pihak perusahaan justru mempertebal kecurigaan keluarga. Fakta bahwa BM meninggal dalam kurun waktu singkat setelah diamankan menimbulkan dugaan adanya tindak kekerasan.
“Kami menduga ada penganiayaan. Ini bukan kematian wajar. Polisi harus tegas dan transparan,” tegas Sujarno.
Lebih jauh, keluarga mengungkap Polres Simalungun telah mengamankan tujuh orang pengamanan PTPN IV yang diduga terlibat dalam penangkapan BM. Kasus ini pun resmi dalam penyelidikan.
Kasat Reskrim Polres Simalungun, AKP H. Manurung, mengonfirmasi adanya pemeriksaan intensif. “Masih proses, nanti akan digelar,” singkatnya.
Istri Korban: “Saya Hamil, Suami Saya Pergi Begitu Saja”
Suasana duka menyelimuti rumah keluarga BM. Sang istri yang tengah mengandung tak kuasa menahan air mata.
“Saya sedang hamil. Suami saya pergi begitu saja. Terakhir kami bertemu dia sehat. Kami minta polisi mengusut tuntas dan beri keadilan,” ungkapnya lirih, diamini keluarga dan masyarakat.
Desakan Transparansi dan Penegakan Hukum.
Kasus ini membuka babak baru perdebatan tentang praktik keamanan perkebunan sawit yang kerap dinilai represif. Lembaga hukum dituntut bergerak cepat dan membuka fakta sebenarnya: apakah BM tewas karena kecelakaan saat melarikan diri, atau ada praktik penganiayaan yang dilakukan aparat keamanan perusahaan.
Keluarga korban, warga, hingga pemerhati hukum kini menyoroti kasus ini. Masyarakat menanti: apakah hukum benar-benar tegak, atau justru tunduk pada kepentingan korporasi.?
(Hs/Tim)












Komentar