” AWAS TUMBUH SEPERTI JAMUR ” Wartawan Bodrex, Wartawan Abal-Abal dan Wartawan Profesional,Ini Bedanya.

 

 

Indragiri Hilir  | metroinvestigasi.id  – Jumat,25 Maret 2022  – Akhir – Akhir ini kita melihat sangat menjamurnya Wartawan di Kabupaten Indragiri Hilir, dikarenakan mudahnya mengantongi kartu pers.

Entah itu kartu pers yang didapatkan dari pimpinan medianya atau dibuatkan oleh bironya kata krennya,namun kita sangat prihatin karna hannya modal kartu pers saja akhirnya boleh dikatakan itu, wartawan Bodrex.

Atau pun memang juga betul bahwa seseorang yang memiliki kartu pers, tapi tidak ada medianya, atau orang tersebut tidak tercantum dalam box redaksi dan menjalankan pekerjaannya hanya membawa kartu pers tersebut untuk dapat menakut-nakuti,serta mengancam untuk memberitakan, untuk mendapatkan sejumlah uang yang nominal ditentukan. ini yang disebut kategori wartawan Bodrex.

Sementara wartawan abal-abal, merupakan seorang yang memiliki kartu Pers, ada Medianya, tercantum dalam box redaksi, namun cara kerjanya tidak jauh beda dengan wartawan bodrex, tidak pernah membuat berita,sementara di lapangan paling ganas, dan tak kalah seringnya untuk menakuti-nakuti dengan dalih data yang dibicarakan.

“Padahal sebenarnya oknum wartawan tersebut tidak memahami data itu sendiri namun berani menggiring narasumber mengeluarkan sejumlah nominal untuk kepentingan pribadi, sementara apa pun si oknum tersebut tidak mengerti apa yang dikerjakannya.

Sementara wartawan Profesional, merupakan seorang yang memiliki kartu Pers,dan memahami cara kerja Jurnalis,yang tertuang didalam Undang-Undang Pokok Pers No 40 tahun 1999, yang mana bahwa membuat berita sesuai kaidah Jurnalistiknya, serta menjalankan profesi pers tidak harus dengan data walau mengungkap suatu kasus, namun tetap mengumpulkan informasi dengan cara mengkonfirmasi, baik itu secara langsung juga secara tertulis kepada sumber- sumber terkait, dan elegan dalam mengkonfirmasi semua narasumber tanpa harus menjilat atas nama kemitraan, setiap hasil konfirmasi akan dibuat berita.

” Yang pasti,Wartawan itu dihargai dari hasil karya jurnalistiknya, yakni kualitas beritanya yang sesuai kaidah jurnalis.

Menjadi Wartawan bukan untuk gagah-gagahan, menakuti cacing yang kepanasan demi menghasilkan pundi-pundi pribadinya,dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai “wartawan”

Catatan : Adapun tulisan ini saya buat untuk pemahaman tersendiri.bukan untuk menyinggung melainkan untuk membangun dari diri kita sendiri.salam sehat sumua.** (marbun)

Komentar