Simalungun | metroinvestigasi.id – Sejumlah hewan ternak di kecamatan gunung malela kabupaten simalungun sumatera utara, hampir di 16 nagori mengalami Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Camat gunung malela Roy Ghozali Sidabalok meyebutkan sedang di lakukan pengumpulan data untuk segera di lakukan penyemprotan disinfeksi di kawasan lingkungan peternakan.
“Sedang di lakukan pengumpulan data kemarin, dari beberapa nagori sudah menyampaikan. Penanganan setiap laporan sudah dilakukan, keadaan terbaru sore ini sudah ada disinfektan di gugus tugas dan sedang kita sikapi untuk pengambilan disinfektan tersebut untuk di bawa ke nagori”, terang Roy ghozali sidabalok saat fi konfirmasi jumat sore 01 juli 2022.
Penanganan sementara sudah kita sampaikan ke peternak melalui nagori dan penyuluh ternak, tambah Roy Gajali Sidabalok. Hal ini juga di sampaikan oleh beberapa sekretaris nagori yang mengatakan ada beberapa dusun yang belum melakukan pendataan. “ masih ada yang belum ada di data, mungkin besok sudah selesai”, kata sekretaris nagori serapuh.
Terkait pencegahan PMK masih banyak warga yang belum melakukan tindakan melalui penyuntikan obat – obatan. Di katakan, untuk satu ekor lembu harus merogoh kantong sebesar Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah) untuk satu ekor lembu .
“Seratus ribu per ekor, kalau 10 ekor berarti satu juta, ini yang berat) kata warga yang enggan menyebut namanya saat di temui di kandangnya kamis lalu.
“Penyuntikan juga belum tampak perubahannya padahal sudah empat hari, bahkan ada yang mati setelah di suntik” kata Hamdan warga P. Gajing Kamis lalu. Menurut Hamdan, penyuntikan di lakukan oleh IR penyuluh peternakan dan ia membenarkan kalau setiap penyuntikan di tarif seratus ribu per ekor.
Dikutip dari dinas KOMIMFO Jawa timur per 01 Juli 2022 yang diunggah pada 12 Mei 2022. Menurut guru besar fakultas kedokteran (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr. Drh Fedik Abdul Rantam menyebut penting segera melakukan penyemprotan di lingkungan peternakan.
Dijelaskan, Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit yang menyerang hewan berkuku belah karena virus. Tingkat penularannya juga tergolong tinggi. Penyebarannya dapat melalui berbagai cara. Yaitu, udara, makanan, kotoran yang menempel pada alas kaki, pakaian, kontak langsung, peralatan kandang dan jarum suntik.
Di tetangkan, Metode Disinfeksi dapat dilakukan secara efektif pada pagi dan sore. Dengan ketentuan bahan yang dapat dipertimbangkan. Selain itu, ada beberapa bagian tubuh sapi yang harus dibersihkan.
“Untuk Alas dapat menggunakan kaporit, namun Karena efeknya oksidator biasanya untuk alas. Pada bagian dinding bisa menggunakan formaldehaide 1 persen dengan volume rendah. Sedangkan pada aliran air dapat menggunakan Chloride,” katanya.
“Penyemprotan dengan KMNO4 dapat dilakukan pada kaki sapi, sedangkan mulut sapi yang mengalami luka dapat dicuci menggunakan NaCl 1-2 persen,” imbuhnya.
Prof Fedik menyampaikan bahwa disinfektan dapat dibuat sendiri oleh peternak. Terutama bagi peternak di daerah yang tidak mendapat disinfektan komersial. “ Peternak bisa membuat sendiri dengan cukup efektif. Dengan pendekatan virologi, salah satunya menggunakan kaporit dengan suspensi 10 persen, lalu diencerkan menjadi 2 persen supaya lebih mild (ringan),” terangnya.
Selain itu, penggunaan disinfeksi dosis rendah akan menarget virus secara langsung. “Kaporit tidak berefek buruk bagi hewan, namun kalo terlalu tinggi kadarnya menjadi oksidator sehingga alat (berbahan besi) menjadi berkarat,” tambahnya.
Prof Fedik berpesan peternak untuk tidak panik. Sapi bisa sembuh dengan perawatan, disinfeksi kandang, dan pemberian vitamin juga. ( HS )










Komentar