oleh

Ketua Gerakan Daulat Desa (GDD) Kota Gunungstoli Mengecam Tindakan Kekerasan Terhadap Perempuan

 

Gunungsitoli | metroinvestigasi.id –Agustinus Hulu,SE,MM Ketua Gerakan Daulat Desa ( GDD ) Kota Gunungsitoli mengecam tindakan kekerasan terhadap Perempuan yang di lakukan oleh oknum Polres Nias pada saat Aksi ujuk rasa Damai di depan Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Nias pada tanggal 3 Oktober 2020 beberapa waktu yang lalu. Tindakan Kekerasan yang di lakukan oleh oknun aparat ini sangat memalukan dan melanggar hukum. akibat dari kejadian ini hingga menimbulkan kebencian mayarakat kepada kepada pihak oknum kepolisian Polres Nias, di harapkan kepada pihak Polres Nias segera menindak anggota nya yang melakukan kekerasan tersebut, dan untuk segera memohon maaf kepada Masyarakat Nias,guna meredam emosi masyarakat, terangnya, Kamis (5/11/2020).

Ia nya juga menjelaskan, menyampaikan Pendapat di depan umum dan berpedoman pada undang undang nomor 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan menyampaikan di depan Umum dan kemudian kemerdekaan berserikat dan berkumpul mengeluarkan pikiran dengan lisan maupun Tulisan di tetapkan oleh Undang undang. Semantara itu Aksi unjuk rasa damai/Demonstrasi adalah bentuk penyampaian pendapat di depan umum juaga dapat di lakukan dengan Pawai,Rapat Umum,Mimbar bebas.

Perjuangan melawan kekerasan terhadap Perempuan menjadi tanggung jawab bersama,bahwa akhir akhir ini semangkin meningkat kekerasan terhadap Perempuan, begitu juga halnya dengan salah seorang mahasiswa peserta unjuk rasa anggata GMNI yang menjadi korban kekerasa saat melakukan aksi unjuk rasa menyampaikan Aspirasi masyarakat di depan kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Nias beberapa waktu yang lalu.

Terkait mendesak pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan dan Derektur RSUD Gunungsitoli untuk mengevaluasi hasil kerja, dalam melayani dan Penanggulangan Penanganan Covid-19 yang diduga kurang sesuai dengan kondisi pasien tersebut, seperti halnya yang dialami oleh orang tua salah seorang peserta aksi yang menjadi korban kekerasan terhadap perempuan.

Orang tua (Bapak) dari peserta aksi berinisial (ww) menerangkan bahwa orang tuanya masuk rumah sakit RUSD Gunungsitoli pada tanggal 18 Oktober 2020 karna sakit Diabetes yang sudah lama diderita, kemudian pada tanggal 19 Oktober 2020 pukul 15, 00 wib meninggal dunia di rumah sakit dengan diagnosa Covid-19, sehingga penguburan nya secara covid dan protokol kesehatan.

Keluarga menduga Almarhum karena sakit Diabetes bukan Covid -19 , Kecurigaan pihak kelurga bahwa almarhum dengan sengaja di Covidkan oleh oknum di RUSD, hal ini lah memicu keingintahuan masyarakat namun tak ada jawaban yang memuskan dari pihak rumah sakit.

Terjadinya gelombang Aksi unjuk rasa  diawali oleh GMNI, dan tumbuhlah solidaritas antar lembaga mahasiswa.

Terkait dengan Aksi kekerasan terhadap Perempuan dan Vidio yang beredar di masyarakat menjadi viral. Kekeresan terhadap perempuan yang dilakukan oleh oknum Polres Nias, memicu reaksi para Penggiat Pemerhati Perempuan.

Sebuah lembaga Forum OSSEDA Perempuan Peduli (FOP2), sebagai Ketua umum Ibu Murniawati Waruwu menyatakan dengan tegas, menolak keras berbagai jens kekerasan yang di almi oleh Perempuan berbasis Gender.

Kemudian ia juga menolak tindakan Aksi kekerasan terhadap Perempuan yang di lakukan oleh oknum oknum Polres Nias.
Aparat Kepolisian Negara dalam menjalankan tugas adalah Pengamanan, Pengawalan dan memberi Pelindungan serta mengayomi, hal ini di atur dalam Undang Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagaimana termaktup pada Pasal 14 bahwa salah satu tugas Pokok Kepolisian adalah : melakukan pengamanan, penjagaan, pengawalan dan Pateroli terhadap kegiatan masyarakat dan Pemerintah sesuai dengan kebutuhan.@ (Masry)

example banner

example banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed