DARI AZAZEL KE MEJA REDAKSI DAN PENGADILAN:
Ketika Kesombongan Mengubah Amanah Menjadi Pemberontakan
Oleh: Frans Simarmata, SH
Labusel | metroinvestigasi.id- Pena, seragam, dan palu hakim bukanlah sekadar benda mati yang tanpa jiwa. Di tangan orang-orang yang benar dan bertakwa, ketiganya menjelma menjadi perpanjangan tangan keadilan Allah untuk menegakkan hukum, melindungi mereka yang lemah, serta menerangi kebenaran yang mulai redup. Namun, cerita akan berubah menjadi nestapa jika benda-benda suci itu jatuh ke tangan yang hatinya keruh, dikuasai oleh ambisi liar, dan mudah tergoda oleh kilau materi. Di tangan mereka, amanah tersebut berubah menjadi senjata mematikan yang tega menindas hak orang lain demi memuaskan kepentingan sesaat.
Tulisan ini hadir bukan untuk menghujat, melainkan untuk membangunkan kesadaran kita yang mungkin sedang tertidur. Melalui untaian kata ini, kita diajak mengintip realita pahit di balik kemegahan jabatan dan wibawa profesi, sekaligus mempertanyakan satu hal yang kian hari kian mengikis, ke mana perginya integritas saat uang mulai berbicara? Dan ke mana larinya rasa takut akan Tuhan ketika kekuasaan membutakan mata hingga diri merasa serba bisa?
Dalam ruang refleksi iman Kristen, kita diingatkan kembali pada kisah klasik tentang Azazel. Ia adalah malaikat terang yang jatuh bukan karena sebuah kelemahan fisik, melainkan karena hatinya terjangkit penyakit kesombongan yang akut merasa paling benar dan menolak untuk tunduk pada otoritas Allah. Ironisnya, sifat purba inilah yang kini tampak menular ke dalam sanubari banyak pemegang jabatan di sekitar kita, mengubah pelita yang seharusnya menerangi kebenaran menjadi sumber kegelapan yang pekat.
Semoga tulisan ini mampu menjadi cermin yang jernih, mengingatkan kita bahwa segala kekuasaan yang hari ini kita genggam hanyalah titipan Tuhan yang kelak menuntut pertanggungjawaban mutlak.
Azazel Akar Segala Pemberontakan dan Kebohongan:
Untuk benar-benar memahami tragedi yang kini sedang mencoreng dunia penegakan hukum dan institusi pers, kita harus bersedia menengok ke belakang dan mengenal sosok Azazel dari kacamata Alkitab serta tradisi Kristen. Nama ini pertama kali diabadikan dalam Kitab Imamat 16:7–10, digambarkan melalui ritual seekor kambing hitam yang diutus ke tempat tandus dan sunyi khusus untuk Azazel. Simbolis ini membawa makna teologis yang sangat mendalam; Azazel adalah muara dari segala dosa, tempat pembuangan seluruh kesalahan bangsa, sekaligus perwujudan nyata dari sesuatu yang terisolasi dan terbuang jauh dari hadirat Allah yang kudus.
Jika kita menggali lebih dalam melalui literatur kuno seperti Kitab Henokh, potret sang malaikat pemberontak ini menjadi semakin benderang.
Azazel dulunya adalah salah satu malaikat agung yang diciptakan tanpa cela, penuh dengan hikmat, dan menempati posisi kemuliaan yang sangat tinggi di surga. Namun, di sinilah letak ironinya, justru kemuliaan dan kesempurnaan itulah yang menjadi batu sandungan fatal bagi dirinya sendiri. Hatinya perlahan-lahan meninggi seiring dengan rasa kagumnya pada keindahan dan pengetahuan yang ia miliki. Rasa kagum itu berubah menjadi racun yang membuatnya merasa setara, bahkan bermimpi untuk menjadi lebih berkuasa daripada Sang Pencipta.
Firman Tuhan dalam Yesaya 14:13-14 dengan sangat gamblang menelanjangi keangkuhan batin tersebut melalui kalimat: “Aku akan naik ke langit, aku akan meninggikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah… Aku akan menyamakan diri-Ku dengan Yang Mahatinggi.”
Kejatuhan Azazel berakar dari satu titik utama: merasa diri paling benar, menolak keras untuk tunduk, dan menjadikan ego sebagai pusat dari segalanya.
Setelah terusir, ia tidak hanya berhenti pada pembangkangan pribadi, tetapi mulai mengajari manusia hal-hal yang merusak tatanan ilahi. Ia melatih manusia merakit senjata untuk saling membantai, membisikkan seni tipu daya, hingga mengajarkan cara bersolek dengan kemewahan duniawi yang mengasingkan hati manusia dari Penciptanya.
Inilah esensi sejati dari Iblis, persis seperti yang ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 8:44 bahwa ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran. Ketika ia berdusta, ia hanya sedang berbicara dari watak aslinya, karena ia adalah pendusta dan bapak segala dusta. Azazel runtuh bukan karena dijebak, melainkan karena pilihan bebas dari hatinya yang mengeras. Tragisnya, watak purba yang mengerikan itu kini tidak lagi tinggal di masa lalu, ia sedang hidup, bernapas, dan berkuasa di tengah-tengah kita bersembunyi di balik seragam polisi, jubah jaksa, kursi hakim, hingga di ujung pena para wartawan.
Ketika Watak Azazel Menular ke Polisi, Jaksa, Hakim, dan Wartawan:
Realita yang paling menyayat hati saat ini adalah kenyataan bahwa mereka yang seharusnya berdiri tegak sebagai benteng terakhir keadilan, justru perlahan bertransformasi menjadi perpanjangan tangan dari roh Azazel. Padahal, mereka semua diangkat, dilantik, dan disumpah di bawah kitab suci yang sakral demi mengemban misi sebagai cerminan keadilan Allah di muka bumi. Namun, ketika hati mereka mulai terpikat oleh bisikan nafsu, ambisi kekuasaan, dan cinta yang berlebihan pada materi, fungsi suci itu bergeser menjadi sebuah gerakan memutarbalikkan fakta demi memburu keuntungan pribadi.
Padahal, jika kita merenungkan kembali, betapa mulianya cetak biru dari profesi-profesi ini. Seorang polisi dipanggil untuk menjadi pengayom yang melindungi masyarakat tanpa memandang kasta.
Seorang jaksa diberi mandat moral untuk menggali kebenaran materiel demi menegakkan hukum objektif, bukan pesanan. Seorang hakim ditempatkan di kursi sakral untuk memutus perkara dengan bimbingan hati nurani yang bersih. Demikian pula wartawan, yang memikul amanah luhur sebagai mata dan telinga publik, penyampai kebenaran yang tidak boleh diintervensi oleh apa pun.
Sayangnya, ketika idealisme itu runtuh, yang lahir adalah bencana sosial. Mirip dengan Azazel yang mengincar takhta Tuhan, para pemegang otoritas ini sering kali bertindak seolah-olah mereka adalah hukum itu sendiri kebal terhadap aturan dan memosisikan kebenaran sebagai tanah liat yang bisa mereka bentuk sesuka hati.
Sifat keangkuhan ini setidaknya termanifestasi ke dalam tiga gejala yang saling mengunci satu sama lain. Gejala pertama adalah lahirnya rasa paling benar.
Ketika seseorang memegang senjata, menggenggam pasal-pasal undang-undang, menguasai palu sidang, atau mengendalikan opini publik, ada kecenderungan purba untuk merasa tak tersentuh.
Di jalanan dan ruang pemeriksaan, oknum polisi kerap merasa wewenangnya bersifat mutlak hingga menganggap hukum acara hanyalah formalitas di atas kertas yang boleh diterabas. Di meja kerja, oknum jaksa tidak jarang mengunci dakwaannya sebagai kebenaran tunggal, sengaja menutup mata dari bukti-bukti yang meringankan, seolah-olah analisis hukumnya tidak mungkin cacat.
Rasa jemawa ini kian meruncing di ruang pengadilan, tempat di mana oknum hakim kerap memosisikan diri sebagai “wakil Tuhan” dalam arti yang keliru memutus perkara secara sepihak dan menutup telinga dari jeritan keadilan masyarakat. Bahkan di ruang redaksi, oknum wartawan pun bisa terjangkit penyakit yang sama, merasa tulisannya adalah kebenaran mutlak yang haram dikritik, sembari mengabaikan hak jawab dari pembaca yang mencoba meluruskan fakta.
Suara batin mereka yang angkuh ini sesungguhnya adalah gema dari kesombongan Azazel di surga yang merasa tidak ada lagi otoritas yang lebih tinggi dari dirinya. Mereka lupa pada peringatan keras dalam Amsal 16:18 bahwa kesombongan adalah awal dari kebinasaan, dan kecongkakan adalah gerbang menuju kejatuhan.
Dari kesombongan tersebut, mengalirlah gejala kedua, kemahiran dalam memutarbalikkan fakta. Sebagai ahli waris dari karakter sang bapak dusta, oknum-oknum ini memiliki kemampuan sosiologis yang menakutkan untuk membungkus kebohongan dengan kemasan legalitas yang tampak sangat profesional. Kita dipaksa menyaksikan bagaimana sebuah perkara pidana bisa direkayasa sedemikian rupa melalui manipulasi saksi dan penyembunyian alat bukti utama. Kita juga melihat bagaimana lembar-lembar dakwaan disusun bukan untuk mencari keadilan, melainkan untuk memenuhi pesanan dengan menyalahgunakan pasal-pasal berat demi menjegal masa depan seseorang.
Di ruang sidang yang megah, hukum tidak jarang ditafsirkan keluar dari roh aslinya, dipelintir sedemikian rupa agar ketukan palu jatuh pada pihak yang memiliki modal paling besar. Fenomena ini disempurnakan oleh oknum pers yang dengan sengaja memotong narasi narasumber, menyembunyikan fakta penyeimbang, dan memproduksi berita-berita provokatif demi mengejar rating atau demi memuaskan oligarki yang mendanai mereka. Mereka semua tahu mana yang benar, namun dengan sadar memilih jalan dusta karena hati mereka telah digadaikan pada takhta dan harta.
Hingga akhirnya, dosa-dosa tersebut bermuara pada gejala ketiga yang paling berbahaya, yaitu kerasnya hati untuk menolak pertobatan. Tragedi terbesar Azazel bukanlah saat ia pertama kali melakukan kesalahan, melainkan ketika ia diberi kesempatan untuk kembali namun memilih untuk mengeraskan lehernya dan bertahan dalam pemberontakan hingga akhir. Watak inilah yang paling sering kita lihat hari ini. Ketika oknum penegak hukum atau insan pers dikritik, dilaporkan, atau ditegur atas kekeliruan yang nyata, respons mereka jarang sekali berupa mawas diri atau permohonan maaf.
Sebaliknya, mereka akan menyerang balik dengan memanfaatkan privilese jabatan, berlindung di balik tameng korps, undang-undang, ataue dalih kebebasan profesi. Ego dan gengsi sektoral telah menutup pintu pemulihan, padahal Amsal 28:14 telah mengingatkan dengan sangat tegas bahwa siapa pun yang mengeraskan hatinya dipastikan akan jatuh ke dalam celaka.
Amanah yang Terlupakan Dari Terang Menjadi Kegelapan:
Pada akhirnya, kita harus berani menatap realita ini dengan jujur. Ketika institusi hukum dan pilar pers yang seharusnya berfungsi sebagai mercusuar kebenaran justru membelot menjadi alat kegelapan, maka fondasi kebangsaan kita sedang berada dalam ancaman keruntuhan.
Efek domino dari rusaknya moralitas ini sangat mengerikan, satu laporan yang dimanipulasi, satu dakwaan yang dipesan, satu vonis yang dibeli, atau satu berita bohong yang disebarkan, sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan kehidupan seseorang secara permanen sekaligus membunuh kepercayaan masyarakat terhadap keadilan.
Segala kerusakan ini terjadi karena kita telah melupakan akar paling mendasar dalam kehidupan berprofesi, bahwa jabatan, pangkat, dan ilmu pengetahuan hanyalah barang titipan, bukan hak milik abadi yang bisa dipermainkan sewenang-wenang. Para pejabat hukum dan insan pers tidak pernah dilantik untuk menjadi raja yang menindas, melainkan untuk menjadi pelayan kebenaran di hadapan Tuhan dan sesama manusia.
Oleh karena itu, satu-satunya jalan keluar untuk memutus rantai penularan watak Azazel ini adalah dengan jalan kerendahan hati. Kita harus memiliki keberanian spiritual untuk mengakui bahwa kita adalah manusia yang penuh keterbatasan, manusia yang bisa salah, dan manusia yang harus selalu siap dikoreksi oleh kebenaran yang sejati bukan kebenaran subjektif yang diukur dengan nominal uang.
Tanpa adanya rasa takut akan Tuhan, segala atribut mentereng yang kita pakai tidak lebih dari sekadar alat untuk melanjutkan pemberontakan purba yang berujung pada kebinasaan.
Penutup
Azazel terlempar dari surga bukan karena ia menderita kekurangan, bukan karena ia bodoh, dan bukan pula karena ia lemah. Ia jatuh justru karena ia terlalu pintar, terlalu hebat, dan memiliki kekuasaan yang tinggi, namun membiarkan hatinya diracuni oleh kesombongan yang merasa tidak ada lagi kekuatan di atas dirinya.
Kisah kejatuhannya harus terus diletakkan di meja kerja para penegak hukum dan meja redaksi para wartawan sebagai sebuah peringatan yang abadi. Sehebat apa pun argumen hukum Anda, setinggi apa pun pangkat yang melekat di pundak Anda, dan setajam apa pun pena yang Anda goreskan, jika semua itu digerakkan oleh keangkuhan dan ketamakan, maka sesungguhnya Anda sedang berjalan di rute yang sama dengan sang malaikat pemberontak.
Kekuasaan, hukum, and pena adalah instrumen suci yang dipinjamkan Tuhan untuk menegakkan keadilan di bumi. Jika instrumen itu justru digunakan untuk menindas dan memproduksi kedustaan, maka pengadilan akhir di hadapan Sang Hakim Agung kelak akan jauh lebih berat dan mengerikan. Semoga refleksi singkat ini mampu mengusik batin kita semua, menuntun kita untuk terus menjaga kemurnian hati, pikiran, serta tindakan, dan menjaga amanah ini dengan penuh rasa hormat kepada Allah Sumber dari Segala Kebenaran yang Sejati.
Penulis Adalah: Wartawan Metro Investigasi Labuhanbatu Selatan
















Komentar