Indragiri Hilir | metroinvestigasi.id – APDESI kabupaten Indragiri Hilir menyikapi terkait berita yang beredar mengenai studi banding ke wilayah timur Indonesia menuai pro dan kontra dari beberapa kalangan.
Yang mana bahwa studi banding yang menggelontorkan dana sebesar Rp.15 juta per desa itu dinilai pemborosan alias mubazir, karena tidak termasuk dalam program prioritas pemulihan ekonomi.
Dalam hal ini, Ketua terpilih Asosiasi Persatuan Desa Seluruh Indonesia (APDESI), Said Khairul Hanifiah menjelaskan kegiatan itu bukan tanpa tujuan dan bukan untuk menghambur-hamburkan anggaran desa, melainkan untuk peningkatan kemampuan aparatur desa ke depan.
Yang mana dilaksanakannya studi banding ini untuk dapat menyetarakan pengembangan ekonomi serta tertib administrasi.
Karna kita menganggap dalam hal ini ekonomi tidak bisa berkembang jika tidak diikut sertakan tertib admintrasi.
Disamping itu juga, APDESI bersama Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) tidak akan menunda pelaksanaan kegiatan yang sifatnya menjadi perioritas untuk kepentingan masyarakat, baik itu pemulihan ekonomi ,mitigasi dan penangan bencana alam.
“Pemulihan ekonomi, mitigasi dan penanganan bencana dan non alam yang jadi kewenangan desa itu selalu kami anggarkan setiap tahunnya,” ungkapnya serius.
Said juga menegaskan bahwa apa yang kita laksanakan sekarang ini merupakan suatu kegiatan yang sangat jelas dan terukur sesuai pengkajian agar aparatur desa memiliki kemapuan dalam pengembangan ekonomi dan administrasi.
Pertama kami melihat pemerintah wilayah timur secara administrasinya baik dan pengembangan wisata desa juga tertata dengan baik.Dan disamping itu pula kita juga ingin belajar dari mereka.
Serta menanggapi tentang keterlibatan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Said mengatakan bahwa pelaksanaan kegiatan ini, Pemdes Inhil melalui APDESI meminta DPMD sebagai fasilitator, dikarenakan DPMD inhil leading sektornya Pemdes Desa.
Kita mengakui Memang, bahwa kami meminta DPMD memfasilitasi kegiatan studi banding ini. Serta Kita juga meminta dukungan dari masyarakat inhil untuk mendukung kegiatan ini. Kita sangat memahami kondisi daerah saat ini, keberangkatan kita ini,tidak terlepas dari bagaimana cara serta daerah wisata daerah kita ke depan.
Dan menurut Krisna Putra, salah satu kepala desa yang turut ikut dalam kegiatan pelaksanaan studi banding tersebut mengatakan, bahwa pelaksanaan studi banding ini kita gagas bukan berarti untuk menghamburkan uang melainkan agar kita dapat menimba ilmu dan belajar tentang bagaimana cara mengedepankan tertip administrasi serta menumbuh kembangkan ekonomi serta cara mengembangkan wisata di daerah kita ini.
Mangkanya menurut krisa putra kepala desa paro baya ini juga menambahkan, perlunya kita belajar, bagai mana cara menumbuh kembangkan wisata yang ada,serta menimba ilmu cara Tertip administrasi, serta mempelajari tingkat perekonomian dari tingkat desa ditempat tujuan daerah studi banding yang kami tuju.ungkapnya lagi.
Namun masih menurut krisa putra,kami juga sangat berterima kasih kepada masyarakat yang senantiasa memberikan kritikan bagi kami,berarti kami menggap, berarti masyarakat masih sayang kepada kami atas adanya kritikan saat ini,untuk itu kami terbuka jika ada masyarakat bertanya tentang kegiatan yang kami programkan seperti studi banding saat ini.
Jelasnya studi banding ini bukanlah untuk kepentingan pribadi demi pribadi kami kepala desa yang ikut studi banding ini,melainkan untuk kepentingan kita bersama demi peningkatan,tertib administrasi,dan ekonomi serta bagaimana cara meningkatkan cara pengembangan wisata khususnya di daerah kabupaten Inhil,yang kita tau bahwa daerah kita ini sudah mendunia,dengan julukan hamparan kelapa dunia.jelas Krisna serius..(Marbun)










Komentar