Labusel | metroinvestigasi.id- Dimulai dari titik kumpul jalan masuk menuju PT Nubika Jaya ,Kelompok Tani Perjuangan Mulia Indonesia (KTPMI) beranjak menuju lokasi Kebun PT.Nubika Jaya Cabang Permata Hijau Grup (PHG),Selasa (28/10/2026).
Sampai di depan portal Perusahaan tersebut, Kelompok Tani KTPMI Desa Tanjung Mulia,Kecamatan Kampung Rakyat,Kabupaten Labuhanbatu Selatan,Provinsi Sumatera Utara langsung dihadang oleh satuan keamanan PT Nubika Jaya.Barada di belakangnya sejumlah personil keamanan dari Kepolisian Polres Labuhanbatu Selatan.

Terjadi perdebatan sengit,dimana pihak KTPMI yang didampingi oleh organisasi mahasiswa Labuhanbatu, yaitu PMII yang diketuai oleh Ferri Setiayawan, GMNI diketuai oleh Amos Sihombing dan GMKI yang terpanggil oleh desakan ketidakadilan para pengusaha di negeri ini,yang katanya hanya menuai keuntungan tanpa berfikir dan berpihak kepada kemakmuran dan kepentingan masyarakat tempatan.
Merampas dan menguasai tanah-tanah mesyarakat dengan segala macam cara yang salah namun benar menurut mereka dan dibenarkan pula oleh aturan dan peraturan yang selalu menyimpang,diselewengkan dan dilanggar oleh para pejabat penguasa pada masa kekuasannya.
Inilah yang terjadi pada masyarakat KTPMI desa Tanjung Mulia.Menurut
pengakuannya,tanahnya katanya dibeli,diganti rugi dengan artian rugi sesunggunya.Bukan ganti untung dan dilakukan dengan berbagai tipu daya,mengelabui dan diduga memalsukan tandatangan masyarakat yang diganti rugi itu sendiri.
Perdebatan sengit yang terjadi, Kelompok Tani KTPMI yang telah memberitahu akan berunjuk rasa pada,Selasa 28 Oktober 2025 dihadang oleh petugas keamanan perusahaan, Kepolisian dan TNI yang hanya menonton dan tidak tahu berpihak pada siapa untuk siapa.
Masyarakat pendemo akhirnya harus berhadapan terlebih dahulu oleh aparat Kepolisian,sementara pihak menejemen perusahaan yang hadir adalah humas PT Nubika Jaya dan mantan humas Sofyan Nasution yang katanya sekarang menjadi petinggi di perusahaan itu berdiri tegak dengan angkuhnya melihat perdebatan sengit yang hampir berujung anarkis.
Waktu yang diberitahukan untuk orasi adalah pukul 10.00 wib siang,namun dihadang oleh pihak Kepolisian karena pihak manejemen meminta baru boleh masuk area kebun pukul.14.00 wib.
Masyarakat pun kecewa,dan terus berlanjut negosiasi dengan sengit hingga akhirnya pihak kepolisian meminta pihak menejemen perusahaan untuk bernegosiasi langsung kepada pengunjuk rasa.
Disepakati waktu untuk orasi pukul 14.00 oleh pihak menejemen,namun diambil jalan tengah oleh salah satu aparat kepolisian dengan mengambil jalan tengah yaitu pukul 13.00,namun sebelumnya sempat akan dibuka portal pada pukul 12.00 wib tapi dibatalkan oleh mantan humas yang termasuk petinggi di PT Nubika Jaya Sofyan Nasution.

Debat pun kembali sengit,Amos Sihombing beranjak melihat rekan sepernjuangannya Ferri Setiawan berdebat sengit dan kembali sembari mengenakan baju organisasi dengan menyebutkan,” ini jaminannya kalau terjadi tidak kondusifnya Aksi Demo,saya siap ditahan,” katanya dengan nada jelas dan tegas.”
Tepat pukul 13.45 wib portal dibuka, rombongan aksi masa masuk beriringan dengan aparat kepolisian.Aksi Unjuk Rasa (Unras) disetujui di afdeling 3 kebun PT Nubika Jaya.
Sedih dan luruhnya hati ini melihat masyarakat melaksanakan Upacara Sumpah Pemuda.Mengingatkan akan kita yang inti dari Sumpah Pemuda itu sendiri adalah “Persatuan” .Bukan main-main, siapa sangka upacara yang dipenuhi dengan para orang tua itu berlangsung sangat khidmat walau pun dengan apa adanya.

Tuntutan aksi adalah lepaskan lahan 700 ha milik masyarakat,ukur ulang luas HGU PT Nubika Jaya dan tunjukkan mana plasma perkebunan yang menjadi kewajiban perusahaan sesuai Undang-Undang.
Ketua Kelompok Tani KTPMI Desa Tanjung Mulia Abdulah Hasibuan meminta,” tolong Bupati Labuhanbatu Selatan,Ketua Dewan Provinsi SU,Kajati SU segeralah ditindaklanjut laporan kami terkait tiga puluh tahun sudah kami berjuang,” pinta ketua KTPMI dengan nada lirih dan wajah penuh hatapan.” (C2p)










Komentar